Jumat, 21 September 2012

Penanaman kelapa sawit

PENANAMAN KELAPA SAWIT 


Di post oleh : http://bloggnyabangheru.blogspot.com/
IN PT.PP Langkat Nusantara Kepong





Umumnya, pola tanam kelapa sawit berbentuk segi tiga sama sisi pada areal rata/datar sampai bergelombang. Sementara, pada areal berbukit dengan sudut kemiringan lebih dari 120. perlu dibuat teras kontur dengan jarak tanam sesuai dengan ketentuan. Panjang sisi (jarak tanam) harus dibuat seoptimal mungkin sehingga setiap individu tanaman mendapat ruang lingkungan serta sinar matahari yang memadai dan seragam untuk mendapatkan produksi per ha yang makimal selama satu siklus hidup.

Investasi yang sebenarnya dari perusahaan perkebunan yaitu bibit yang ditanam di lapangan. Pokok yang ditanam sekarang akan menentukan produksi selama satu generasi yang akan datang (25-30 tahun). Kualitas bibit (genetik dan kesehatannya) merupakan faktor utama yang menentukan produksi per ha. Namun, tanpa penanaman yang benar dan perawatan yang berkelanjutan, bibit yang berkualitas tetap tidak akan menghasilkan secara optimal. Untuk itu, penanaman dengan baik dan benar mutlak merupakan prasyarat untuk optimalisasi produki per ha.

1. Waktu Penanaman di Lapangan

Pada saat menanam kelapa sawit, pembuatan jalan sudah harus selesai sehingga pengangkutan bibit dapat dilakukan dengan truk atau traktor roda (wheel tractor). Waktu penanaman kelapa sawit antar lokasi biasanya berbeda-beda, tergantung pada situasi iklim setempat/regional. Di Indonesia, penanaman biasanya disesuaikan dengan pola musim hujan, di mana kelembaban tanah cukup tinggi untuk merangsang perkembangan akar sehingga bibit cepat menyesuaikan diri dengan keadaan di lapang. Dua hal penting yang perlu dihindarkan dalam penanaman kelapa sawit yaitu penanaman pada periode kering yang berkepanjangan dan penanaman di daerah yang tergenang.
Oleh karena keterikatan proses penanaman kelapa sawit dengan faktor iklim sehingga walaupun ada beberapa lokasi yang memungkinkan untuk penanaman sepanjang tahun, biasanya penanaman hanya dilakukan dalam beberapa bulan. Umur bibit yang paling optimal untuk penanaman di lapang berkisar 12 ± 2 bulan. Bibit umur 10-14 bulan (dari pembibitan 2 tahap) ini umumnya cukup baik untuk ditanam di lapang karena sudah memenuhi syarat-syarat utama penanaman. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor berikut ini.
• Habitusnya sudah cukup besar sehingga cukup tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
• Hanya mengalami kejutan (shock) alih tanam yang relatif ringan.
• Biaya pembibitan akan berkurang karena sebagian bibit sudah ditanam ke lapangan.
• Dalam kondisi lapangan yang normal, tanaman sudah akan menghasilkan pada periode 28 bulan yang akan datang.
• Pada kondisi umur bibit yang optimal ini, proses seleki pada waktu alih-tanam ke lapangan akan lebih mudah sehingga diharapkan hanya sedikit bibit abnormal yang "lolos" dan tertanam di lapangan.
Walaupun sudah direncanakan dengan matang, sering kali dapat terjadi keterlambatan dalam pembukaan lahan karena beberapa faktor yang tidak dapat diantisipasi secara dini. Keterlambatan pembukaan lahan ini akan menyebabkan bibit yang tersedia menjadi lewat umur pada saat lahan siap ditanami kelak. Penanaman bibit yang lewat umur (umumnya > 15 bulan) akan menyebabkan tanaman mengalami hambatan dalam pertumbuhan (stagnasi). Menanam bibit yang terlalu tua mempunyai beberapa kerugian bila dibandingkan menanam bibit muda. Adapun alasannya sebagai berikut.
• Akar tanaman sudah terlalu panjang dan perlu dilakukan pemotongan berat sehingga akar-akar muda akan banyak terbuang. Akibat pembuangan akar ini, tanaman akan mengalami stagnan pertumbuhan dalam waktu yang relatif lama ± 5 bulan).
• Persentase kematian lebih tinggi karena tanaman mengalami kejutan (shock) yang disebabkan oleh laju evapotranspirasi yang tinggi tanpa diimbangi dengan peningkatan kemampuan akar untuk menyerap air dari dalam tanah.
• Oleh karena batangnya sudah relatif tinggi (teretiolasi) maka pada saat-saat permulaan ditanam di lapang, tanam akan mudah roboh karena angin.
• Bibit tua yang bobotnya lebih berat menyebabkan para petugas cenderung untuk memperingan bobot bibit dengan cara menyobek kantong plastik dan membuang tanahnya. Hal ini dapat terjadi pada saat pengangkutan dan pengeceran (penyebaran) ke lapanga.
Bibit lewat umur masih dapat ditanam dengan diberi perlakuan khusus sebelum dipindahkan ke lapangan. Daun bibit tersebut harus dipangkas untuk mengurangi laju evapotranspirasi. Jika bibit yang sudah besar ini tidak dipangkas maka tanaman akan kehilangan banyak cairan, sedangkan akarnya sendiri belum mampu mengimbangi penyerapan air yang hilang tersebut. Persentase kematian bibit di lapangan akan cukup besar. Selain itu, pemangkasan daun juga dapat mengurangi bahaya pohon tumbang karena tiupan angin.
Pemangkasan dilakukan pada ketinggian 1 - 1,5 m dari permukaan polibag, di mana bibit dipangkas rata. Cara lain yang lebih baik yaitu dengan pemangkasan bentuk kerucut yang sudut kemiringan berkisar 30-45o. Dengan demikian, hanya sedikit daun-daun muda yang terpangkas dan daun yang termuda merupakan puncak kerucut. Jika rencana penanaman belum dapat dipastikan, sebaiknya bibit dipangkas 6 bulan sekali. Kebutuhan tenaga kerja untuk pemangkasan yaitu 40 bibit/HK.

2. Persiapan Tanam

Jarak tanam tergantung dari jenis/tipe tanah dan jenis bibit. Rekomendasi beberapa institusi penghasil benih mengenai pola tanam umumnya 136 pokok/ha (9,2 m x 9,2 m x 9,2 m) untuk tanah mineral dan 150 pokok/ha (8,8 m x 8,8 m x 8,8 m) untuk tanah gambut.
Pemancangan dimaksudkan untuk memberikan tanda-tanda guna pembuatan lubang tanam sesuai dengan jarak tanam yang telah direncanakan. Selain itu, pemancangan juga digunakan sebagai pedoman untuk pembuatan jalan, parit, teras/tapak kuda, dan penanaman kacang-kacangan penutup tanah.
Bahan dan alat yang diperlukan untuk melakukan pemancangan berupa kompas, kayu pancang (pancang induk dan anak pancang), parang, meteran, tali rami/sling besi untuk jarak antar tanaman dan jarak antar baris tanaman. Setiap tim pancang terdiri atas 5 orang, yaitu 1 orang tukang teropong, 2 orang tukang pancang, dan 2 orang tukang tarik tali.

a. Pancangan pada lahan datar
Pancangan dimulai dari luasan 1 hektar terlebih dahulu.
• Tentukan garis pancang utama. Garis pancang utama ini biasanya merupakan kelanjutan dari pemancangan sebelumnya.
• Areal yang akan dipancang dibagi menjadi blok-blok dan diberi tanda sementara pancang sudut.
• Tentukan jalur pancang kepala dengan sudut yang tepat (900) terhadap garis pancang utama. Garis pancang kepala blok harus sejajar dengan jalan produksi.
• Beri tanda titik tanam sepanjang garis pancang kepala.
• Tali ditarik dengan membentuk sudut 600 antara titik-titik pada garis pancang kepala blok dengan titik-titik pada garis pancang kepala utama. Titik-titik diantaranya diberi tanda dengan pancang.
• Sekali satu bagian areal telah dipancang, selanjutnya bagian ini dijadikan acuan untuk pemancangan pada blok tersebut. Tentukan titik tanam dengan menggunakan kawat yang telah diberi tanda jarak tanam.
• Beri tanda tengah-tengah calon jalan produksi dengan pancang merah. Jalan produksi ini mengorbankan satu titik tanam setiap 2 baris tanam.



gambar 1. Pemancangan pada lahan datar
 (lihat dibawah)

b. Pemancangan pada lahan miring
Dengan melihat aspek pengawetan lahan dan air, sebenarnya tidak dianjurkan untuk menanam kelapa sawit pada areal berbukit yang sudut kemiringannya >220. Namun, oleh karena lahan yang tersedia untuk ekstensifikasi semakin lama semakin berkurang, penanaman kelapa sawit pada areal berbukit tampaknya akan merupakan hal yang wajar diusahakan, sejalan dengan praktik pengawetan lahan dan air dengan teknik pembuatan teras bersambung maupun teras individu.
Walaupun pembuatan teras bersambung menyebabkan tingkat kesuburan tanah berkurang, ada beberapa aspek menguntungkan yang harus diperhitungkan dalam memutuskan pembuatan teras, yaitu sebagai berikut.
• Pembuatan teras akan mengurangi bahaya erosi. sekaligus juga mengawetkan air sehingga relatif tersedia bagi tanaman. Adapun penanaman secara langsung di daerah berbukit akan menimbulkan masalah erosi yang serius.
• Penanaman kelapa sawit dan pekerjaan perawatan rutin lainnya menjadi lebih mudah sehingga prestasi kerja akan meningkat dan biaya produksi dapat ditekan.
• Pada saat tanaman sudah menghasilkan, pekerjaan panen dan mengeluarkan TBS dari dalam blok akan lebih mudah. Pada areal yang tidak ada terasnya, buah yang dipanen akan menggelundung ke bawah bukit sehingga kualitas TBS cenderung akan menurun karena meningkatnya kadar kotoran.
• Lebih sedikit buah yang hilang-terutama sekali brondolan-pada kelapa sawit yang ditanam pada teras.
OIeh karena pekerjaan panen lebih mudah maka prestasi kerja pemanen akan meningkat dan biaya panen akan lebih murah dari pada biaya panen di daerah berbukit yang tidak ada terasnya. Pada sistem teras yang baik, biaya panen pada daerah berbukit tidak begitu banyak berbeda dengan biaya panen di daerah yang rata.
Pertimbangan dalam penentuan perlu atau tidaknya pembuatan teras biasanya lebih dititik beratkan pada pertimbangan aspek panen. Jika pemanen memotong TBS minimum 1 ton/hari dengan berat janjang rata-rata 10-20 kg (biasanya diangkut 3-4 janjang sekaligus) maka dapat dibayangkan tingkat kesulitan untuk mengeluarkan buah dari dalam blok yang berbukit dan harus menempuh jarak 150 m.
Penentuan jumlah kerapatan teras per ha harus sudah ditentukan sebelum pekerjaan memancang titik tanam. Idealnya, pertemuan garis kontur (baca: teras) dengan garis kemiringan lahan yang tercuram adalah pada jarak horisontal yang tetap, yaitu 7,97 m. ,Jika jarak antar dua teras yang bersebelahan > 12 m bergerak menjauhi garis kemiringan lahan yang tercuram maka dibuat teras tambahan dengan jarak sekitar 7,3 m. Teras tambahan ini secara teoritis akan terpotong jika kemiringan lahan meningkat dan akan bersatu kembali dengan teras utama.
Pemancangan untuk pembuatan teras dilakukan dengan menarik satu garis lurus dari salah satu titik tertinggi ke daerah yang terendah dengan sudut kemiringan lahan yang tercuram. Sepanjang garis lurus ini dipasang pancang dengan jarak 7,97 m. Jika sudut kemiringan lahan yang tercuram ini pada arah utara-selatan maka jarak pancang dibuat 9,2 m. Sementara bila arahnya timur-barat maka jarak pancangnya 7,97 m. Jarak antar pokok di dalam barisan ini dipilih sedemikian rupa sehingga setiap 100 m horisontal terdapat 10-13 teras. Diawali dari pancang tersebut maka pemancangan menurut garis-garis kontur dapat dilakukan untuk seluruh areal. Untuk ketepatan pemancangan, sebaiknya digunakan alat bantu water pass.
Cara pemancangan pada areal berbukit dan bergunung dilakukan dengan pola tanam teras kontur, memakai metode sistem 'Violle." Teknis pemancangan dengan sistim 'Violle" dilakukan dengan menentukan satu titik di areal tercuram. Kemudian, ditentukan satu garis lurus ke arah lembah dengan jarak masing-masing titik 7,3 m. Setiap titik dibuat warna merah, biru, dan kuning. Jarak antar teras minimum 7,3 m dan maksimum 8,9 m. Jika jarak antar teras menyempit (< 7,3 m) atau melebar (> 8,9 m) maka pembuatan teras tersebut harus diputus atau dihentikan. Selanjutnya, dimulai pembuatan teras dengan titik baru dengan jarak 7,3 m .


Gambar 2 . Pemancangan teras kontur dengan sistem Violle
 (lihat dibawah)

Cara yang dilakukan untuk membedakan pancang teras antara satu terasan dengan terasan yang lain yaitu dengan membedakan warna pancang yang berbeda dengan susunan merah, biru, kuning, dan seterusnya. Hal ini bertujuan untuk menghindari kesalahan operator alat berat berpindah dari satu teras ke teras yang lain pada waktu pembuatan teras. Untuk bagian teras di tempat-tempat tertentu yang kurang horizontal, harus dibuat benteng penahan (stop bund) melintang dengan ukuran lebar 50 cm dan tinggi 30 cm untuk menahan aliran air dan mencegah erosi sepanjang terasan tersebut. pada tahap awal pembuatan teras, diperlukan pemeriksaan yang rutin dan perarlatan teras yang rusak. Setelah itu, perawatan teras biasanya dilakukan setahun sekali untuk memperbaiki permukaan teras supaya sudutnya tetap berkisar 10-150 dan memadatkan pinggirannya bila diperlukan. Prestasi tenaga kerja untuk rehabilitasi teras ini berkisar 20-30 m/HK.
Pembuatan teras kontur harus selalu dimulai dari teras yang paling atas, kemudian dilanjutkan pada terasan di bawahnya. Letak garis kontur untuk teras kontur harus timbang air (water pass). Teras kontur dibuat dengan permukaan yang miring ke dinding teras dengan sudut miring 10-150 dan tepat pada pancang tanaman. lebar teras berkisar 3-4 m, sedangkan lebar teras penghubung antar tanaman 1m. Pada saat pembuatan teras, permukaan tanah dibersihkan dari humus, tunggul-tunggul, dan kayu. Tanah galian disusun untuk tanah bagian yang ditimbun. Setelah terbentuk, diadakan pengerasan hingga padat. Tanah timbunan harus membentuk sudut kemiringan 10-150 ke dinding teras. Dengan penggunaan bulldozer, proses pemadatan dilakukan secara alamiah karena tekanan track link bulldozer sehingga tidak perlu dikeraskan lagi. Umumnya, prestasi kerja traktor rantai 80-120 HP yang dilengkapi angle dozer sekitar 80-120 m/HM untuk teras lebar 4 m. Sementara, jika menggunakan tenaga kerja manual, prestasinya 8-10 m/HK.


Gambar 3. Penampang melintang teras kontur tepat pada pancang tanaman
 (lihat dibawah)

3. Membuat Lubang Tanam

Tata urutan penanaman kelapa sawit mencakup pekerjaan membuat lubang tanam, pemberian pupuk dasar, dan menanam bibit ke dalam lubang yang telah disiapkan. Pembuatan lubang tanam dapat dilakukan secara manual dan mekanis dengan menggunakan alat post hole digger. Sistem tanam yang dianjurkan yaitu membuat lubang tanam 1 bulan sebelum tanam. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kemasaman tanah dan mengontrol ukuran lubang yang dibuat. Pengontrolan ukuran ini perlu dilakukan karena ukuran lubang tanam merupakan salah satu aspek penting dalam perkebunan kelapa sawit. Selain untuk tempat meletakkan bibit di lapangan, pembuatan lubang tanam juga bertujuan untuk menggemburkan struktur tanah sehingga penyerapan unsur hara yang diberikan (pupuk) menjadi lebih cepat dan mudah tersedia bagi tanaman. Lubang tanam yang disarankan yaitu (90 x 90 x 60) cm-panjang 90 cm, lebar 90 cm dan dalam 60 cm-dengan dinding lubang tanam yang tegak lurus. Prestasi kerja untuk membuat lubang tanam yaitu 15-25 lubang/HK.
Sebelum membuat lubang tanam, seluruh sampah, akar-akar, atau tunggul yang ada di permukaan tanah di mana lubang tanam akan dibuat harus dibersihkan terlebih dahulu. Jika pada lokasi lubang tanam terdapat tunggul kayu yang tidak dapat dibongkar maka Iubang tanam dapat digeser sedikit, tetapi tetap mengikuti arah barisan. Iapisan tanah atas (top soil) dan lapisan tanah bawah (sub soil) sebaiknya dipisahkan dan ditumpuk dengan arah yang seragam.
Segera setelah selesai pembuatan lubang selesai, pancang dikembalikan tepat pada posisi semula (di tengah lubang). Untuk menjamin ketepatan ukuran lubang. sebaiknya setiap pekerja yang membuat lubang dilengkapi dengan tongkat yang mempunyai ukuran 60 cm dan 90 cm.
Tindakan yang tergesa-gesa dengan membuat lubang langsung diikuti penanaman tidak dianjurkan. Selain kondisi tanah yang belum matang dan mempersulit pengontrolan ukuran lubang tanam, hal ini juga dikarenakan kualitas tanam tidak dapat diawasi dengan baik.
Peralatan yang diperlukan untuk membuat lubang tanam berupa cangkul, alat pengukur/tongkat (mal/patron) dengan ukuran 60 cm dan 90 cm, dan post hole digger. Teknis pekerjaan lubang tanam secara manual dilakukan dengan tata urutan sebagai berikut.
• Lubang tanaman telah dipersiapkan 1 (satu) bulan sebelum tanam.
• Pancang tidak boleh diangkat sebelum diberi tanda untuk pembuatan lubang (90 x 90) cm di atas permukaan tanah sehingga pancang tepat berada di tengah-tengah pola tersebut.
• Ukuran lubang adalah (90 x 90 x 60) cm.
• Tanah hasil galian dipisahkan antara top soil dan sub soil. Top soil diletakkan di sebelah selatan dan sub soil di sebelah utara secara teratur dan seragam.
• Untuk menjamin keseragaman ukuran Iubang tanam, setiap pekerja dilengkapi dengan mal/patron yang berukuran 90 cm dan 60cm.
• Dinding lubang tanaman harus tegak lurus dan tidak boleh berbentuk lain.
• Setelah selesai membuat lubang tanam, pancang titik tanam dikembalikan ke tempat semula.
• Norma prestasi melubang yaitu 15-25 lubang/h
• Pada saat penanaman, hal yang terlebih dahulu ditimbunkan yaitu top soil dengan kedalaman sekitar 25 cm dari dasar lubang, kemudian sub soil pada dengan kedalaman sisanya .



Gambar 4. Penampang melintang lubang tanam kelapa sawit

4. Pemupukan Lubang Tanam

Dosis pupuk per lubang yang digunakan pada saat penanaman kelapa sawit yaitu 125 gram TSP (tanah mineral) atau 250 gram RP (tanah gambut). Pupuk TSP atau RP tersebut dicampur dengan top soil, kemudian dimasukkan ke dalam Iubang tanam. Untuk menjamin semua lubang diberi pupuk dengan dosis yang tepat, setiap bibit diecer ke lubang tanam dilengkapi dengan untilan pupuk TSP atau RP sesuai dosis rekomendasi.
Pada lahan bukaan baru yang umumnya menghadapi masalah kekurangan tenaga kerja pada saat-saat awal proyek penanaman, rekomendasi pemupukan pada periode tahun pertama TBM dapat diganti dengan Controlled Released Fertilizer (CRF), seperti Meister MX 20-6-14-3+TE yang diberikan sebesar 300 g/pokok pada lubang tanam.


5. Menanam Kelapa Sawit


Pekerjaan menanam kelapa sawit dapat dibagi menjadi 5 kegiatan yang terpisah, yaitu persiapan di pembibitan, administrasi dan transportasi, pengangkatan bibit setelah di lapangan (ecer bibit), penanaman di lapangan, serta penyisipan jika bibit yang ditanam mati karena diserang hama dan penyakit.

a. Persiapan di pembibitan
Bibit kelapa sawit sudah dapat ditanam di lapangan pada umur 10-12 bulan. Satu bulan sebelum pemindahan ke lapangan dan diulangi lagi dua minggu kemudian, polybag diangkat dan diputar 1800 untuk memutuskan perakaran yang telah menembus polybag. Dengan demikian, dapat mengurangi terjadinya "shock" pada saat tanaman ditanam di lapangan kelak.
Bibit sawit yang akan dipindahkan ke lapangan harus disiram sampai tanah dalam polybagnya jenuh air. Pemindahan bibit ke lapangan harus dilakukan per kelompok bibit (jenis bibit). Untuk itu, manajer kebun bersama asisten harus menyusun peta rencana penanaman di lapangan. Sebisa mungkin, blok yang sama ditanami jenis bibit dari kelompok yang sama pula. Hal ini akan neningkatkan homogenitas tanaman di lapangan sehingga pekerjaan kultur teknis akan lebih mudah dilaksanakan.

b. Administrasi dan transportasi
Kecepatan pengangkutan bibit ke lapangan harus disesuaikan dengan laju penanaman. Asisten kebun harus mengajukan surat permintaan bibit melalui kantor besar kebun. Setelah disetujui manajer kebun atau staf yang ditunjuk untuk itu maka dibuatkan surat perintah pengeluaran bibit (DO) rangkap 4 (empat). DO diserahkan ke bagian transportasi untuk pengambilan, pengangkutan, dan penyerahan bibit ke lapangan. Pengangkutan bibit harus disesuaikan dengan jumlah yang tercantum dalam DO. Dalam hal ini, pengangkatan bibit ke dalam alat angkut harus diawasi secara ketat.
Setelah bibit sampai di tempat tujuan, DO harus disahkan oleh penerima bibit (asisten/manajer), di mana bibit tersebut akan ditanam. DO yang telah disahkan didistribusikan kepada pejabat (asisten) tempat bibit ditanam, kantor besar asal bibit, mandor pembibitan, dan bagian transport.

c. Transportasi bibit ke lapangan (ecer bibit)
Persiapan penanaman di lapangan perlu dilakukan dengan membentuk beberapa tim yang terpisah untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut

• Pemuatan bibit ke atas kendaraan (di pembibitan).
• Pembongkaran bibit pada setiap rintis yang ditentukan.
• Pengeceran (pendistribusian) bibit ke titik tanam.
• Pembuatan lubang tanam dan pemberian pupuk dasar.
• Penanaman kelapa sawit.

Penanaman kelapa sawit pada areal seluas 2.000 ha dilakukan dalam 5 bulan atau 125 hari bekerja (100 hari efektif atau 20 ha/hari). Penanaman seluas 20 ha/hari memerlukan sarana transportasi bibit, berupa 7 unit truk dengan kapasitas angkut 100 bibit/trip yang beroperasi minimum 4 trip/hari.
Asisten (staf) yang bertanggung jawab terhadap penanaman di lapangan harus membuat tanda-tanda di mana lokasi pembongkaran bibit. Lokasi pembongkaran ini dibuat pada ujung setiap rintis dan harus jelas berapa jumlah bibit yang diturunkan pada setiap titik pembongkaran. Diperlukan 2-3 orang tenaga kerja untuk membongkar bibit, yaitu 1 orang di kendaraan dan 1-2 orang menyusun bibit di tanah. Setiap pengiriman bibit ke lapangan sudah termasuk pengiriman pupuk posfat (RP atau TSP) dan CRF Meister dalam kantong-kantong yang diikatkan pada setiap bibit. Dosis rekomendasi untuk pemupukan lubang tanam ini yaitu 125 g TSP/bibit dan 300 g Meister/bibit.
Pengeceran bibit dari lokasi pembongkaran ke titik tanan dapat mencapai 125 bibit/HK Dengan jarak pengangkutan bibit ke dalam blok makimum 150 m (atau 300 m pulang pergi) ditambah dengan 10-15% waktu untuk meloncati batang-batang melintang maka rata-rata jarak yang ditempuh untuk pengeceran setiap bibit sekitar 195 m. Jika setiap tukang ecer bibit membawa 1 bibit dengan kecepatan jalan 3-4 km/jam maka dalam 1 hari bekerja (7 jam) dapat diecer sekitar 25 bibit/HK. Untuk mengecer 2.720 bibit (20 ha) per hari, dibutuhkan 22 orang. Pembongkaran dan pengeceran bibit ke dalam blok perlu diawasi oleh seorang mandor. Selama pengangkutan dan pengeceran ke dalam blok, bibit harus diangkat pada dasar kantongnya.
Pengangkatan harus dilakukan pada bola tanahnya secara hati-hati agar tidak terjadi kerusakan bibit. Pengangkatan sebaiklya tidak dilakukan pada leher akarnya karena bisa menyebabkan bibit "patah pinggang". Bibit harus diangkat dalam keadaan berdiri dan bagian bawah ditopang dengan bahu. Saat meletakkan bibit di sisi lubang, harus dilakukan dengan hatihati dan jangan dibanting.

d. Penanaman
Sehari sebelum penanaman, bibit sudah diecer ke dalam blok bersama-sama dengan kantong yang berisi 150 g pupuk TSP dan 300 g pupuk Meister. Pemberian pupuk posfat pada dasar dan dinding lubang tanam dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan akar. Sebelum dilakukan penanaman, Iubang tanam harus ditimbun dengan lapisan tanah bawah dan dipadatkan dengan cara diinjak-injak. Supaya penanaman bibit jangan terlalu dalam (terbenam) maka ketinggian tanah sewaktu penimbunan pertama ini harus dikontrol agar kedalamannya masih tersisa sekitar 35 cm lagi. Pengontrolan dapat dilakukan dengan bambu atau besi beton berdiameter 3/8" dengan panjang 35 cm.
Setelah lubang tanam ditimbun dan kedalamannya tinggal sekitar 35 cm (sesuai dengan tinggi tanah dalam polibag), kantong plastik dikoyak dengan pisau, kemudian diletakkan dengan hati-hati ke dalam lubang. Sebelum ditimbun, posisi bibit harus diatur (di"senter") sehingga daunnya menghadap ke arah tiga jurusan (sistem mata lima). Penimbunan dilakukan dengan lapisan tanah atas dan diinjak-injak sampai padat sehingga timbunan tanah tersebut persis sejajar dengan leher akar dan tanaman dapat tegak berdiri. Perlu diperhatikan, agar bola-tanah bibit jangan sampai terinjak (pecah) sehingga dapat terjadi "patah pinggang". Norma prestasi menanam berkisar 20-30 pokok/HK.

Kesalahan-kesalahan yang harus dihindari pada penanaman kelapa sawit sebagai berikut.
• Bibit ditanam terlalu dalam.
• Bibit ditanam terlalu tinggi.
• Bibit ditanam miring/tidak tegak.
• Tanah pada polybag (bola tanah) dipecah dan dibuang.
• Polybag dipotong dan ditinggal di dalam lubang.
• Polybag tidak dibuka sebelum ditanam.

e. Konsolidasi pokok doyong dan penyisipan
Perawatan yang perlu dilakukan pada tanaman yang baru ditanam di lapangan hanya sedikit, di samping pekerjaan rutin. Pekerjaan rutin yang dimaksud yaitu pengendalian gulma, pemupukan, dan ablasi (pembuangan infloresen bunga dan tandan buah yang masih muda). Pekerjaan konsolidasi (menegakkan) pokok doyong hanya dilakukan 1 rotasi (setelah 1 minggu penanaman), bahkan tidak perlu dilakukan jika penanaman sudah dilakukan dengan benar, kecuali bila terjadi angin kencang dan hujan lebat setelah penanaman di lapang. Terlalu sering melakukan konsolidasi pokok dapat menyebabkan stagnasi karena akar yang baru terbentuk akan mudah rusak. Untuk mengatasi hal ini, perlu dipasang kaki tiga untuk menyokong tanaman tersebut. Selanjutnya, harus ada kontrol dan pengukuhan pokok-pokok doyong tersebut secara rutin.
Penyisipan merupakan suatu pekerjaan penting di perkebunan kelapa sawit supaya semua titik tanam hidup dan menghasilkan produksi per hektar yang maksimal serta menekan pertumbuhan lalang dan gulma lainnya. Penyisipan harus dilakukan sedini mungkin. Penyisipan yang terlambat akan menjadi sia-sia karena tanaman sisipan tersebut tidak dapat mengejar pertumbuhan tanaman awal. Pekerjaan awal sisipan yang terpenting yaitu sensus dan identifikasi pokok.
Prinsip pelaksanaan teknis (bibit dan tanam) penyisipan sama dengan pekerjaan penanaman. Namun, perencanaan, persiapan, dan penguasaan teknisnya perlu lebih teliti karena pekerjaan ini mempunyai risiko kegagalan yang fatal. Sisipan sebenarnya merupakan investasi ulang akibat kegagalan pekerjaan awal penanaman. Oleh karena itu, penyisipan yang dilakanakan harus menjamin kelangsungan hidup tanaman sampai dengan berproduksi.
Penyisipan pengganti pokok-pokok abnormal atau mati harus dilakukan pada saat TBM dan sudah harus selesai pada akhir tahun ke-1 dan harus dipelihara lebih intensil. Bibit yang ditanam untuk tanaman yang masih baru sebaiknya menggunakan bibit yang seumur dengan tanaman yang disisip. Pokok sisipan ditanam pada bekas tanaman yang sudah dibongkar supaya barisan tanaman tetap lurus.
Waktu penyisipan sebaiknya dilakanakan pada awal musim hujan dan dilakukan dengan mengantisipasi serangan hama dan penyakit yang mungkin terjadi. Penyipan umumnya sudah harus selesai dilakukan 1 tahun setelah penanaman. Jumlah tanaman yang harus disisipkan dapat beragam karena kondisi cuaca dan cara penanaman, tetapi pada penanaman yang baik biasanya tidak lebih dari 2%. Penyisipan termasuk mengganti pokok yang mati dan pokok abnormal yang "lolos" dari seleksi di pembibitan.

PEMANCANGAN PADA LAHAN DATAR
PEMANCANGAN TERAS KONTUR
Penampang melintang teras kontur tepat pada pancang tanaman lubang tanam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar